|
No |
uraian |
Perkebunan Rakyat |
Perkebunan Besar |
|
Luas (ha) |
Produksi (ton |
luas (ha) |
produksi (ton) |
| 1 |
kelapa Sawit |
69.161 |
203.855)* |
59.021 |
54.352)** |
| 2 |
Karet |
6.096 |
8.800 |
17.686 |
23.294 |
| 3 |
kelapa dalam |
25.452 |
38.618 |
- |
- |
| 4 |
Coklat |
8.437 |
5.770 |
- |
- |
| 5 |
Kopi |
24 |
9,40 |
- |
- |
Ket:
)* = Tandan Buah Segar
)** = CPO
Sawit
Sebagai komoditi ekspor non migas, hasil produksi perkebunan kelapa sawit
sebagian besar masih diekspor ke manca negara dalam bentuk CPO dan baru sebagian
kecil diolah menjadi bahan-bahan kebutuhan konsumsi seperti minyak goreng,
margarine, sabun, dan bahan dasar kosmetik.
Peluang-peluang yang masih memungkinkan dan potensial dikembangkan untuk
pengolahan hasil produksi kelapa sawit selain CPO adalah: industri pembuatan
margarine, sabun, kosmetik, chemical oil, karbon aktif (pengolahan cangkang
kelapa sawit), meubel (pengolahan serbuk sawit), biomassa, dan pengolahan lidi
kelapa sawit.
Karet
Sama halnya dengan kelapa sawit,
hasil produksi komoditi karet sebagian besar diekspor ke manca negara dalam
bentuk latex (getah cair), sheet, dan block rubber, dan hanya sebagian kecil
saja yang diekspor dalam bentuk bahan setengah jadi.
Sampai saat ini hanya PT. Bakrie Sumatera
Plantations yang memiliki industri pengolahan latex menjadi benang karet.
Melihat kondisi dan potensi jenis komoditi ini, masih sangat dimungkinkan untuk
pengembangan industri-industri pengolahan karet menjadi barang-barang kebutuhan
hidup manusia baik untuk keperluan ekspor maupun untuk memenuhi pasar dalam
negeri.
Kakao (Coklat)
Perluasan atau pengembangan tanaman
kakao (coklat) ini masih dapat dilakukan dengan pola pertanaman tumpang sari
dengan tanaman kelapa dalam. Tidak kurang dari 10.000 ha, tersedia lahan yang
dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kakao (coklat) yang tersebar pada
beberapa kecamatan, seperti: Sungai Kepayang, dan Tanjung Balai.
Dengan bertambah luasnya pertanaman
kakao (coklat), maka diharapkan akan bertambah jumlah produksi yang dihasilkan.
Untuk memberikan nilai tambah produksi hasil kakao (coklat) ini, diperlukan
pembangunan industri pengolahan biji kakao (coklat).
Peluang yang potensial dikembangkan adalah industri pengolahan hasil produksi
komoditi kakao (coklat), antara lain:
•
Pembuatan tepung coklat (pasta)
untuk dijadikan bahan konsumsi (makanan),
•
Pengolahan kulit buah coklat untuk
dijadikan bahan pembuatan pupuk,
•
Pengolahan kulit biji coklat untuk
dijadikan pakan ternak.
Kelapa Dalam
Tanaman komoditi kelapa dalam merupakan perkebunan rakyat terluas di
Kabupaten Asahan. Tahun 2009 tercatat seluas 25.452,00 ha. Sentra tanaman jenis
komoditi ini terdapat di Kecamatan Sungai Kepayang, Tanjung Balai, dan Air
Joman.
Peluang yang potensial dikembangkan untuk industri lanjutan pengolahan komoditi
kelapa dalam, antara lain:
•
Pembuatan virgin coconut oil (VCO),
•
Pembuatan nata de coco
•
Pembuatan tepung kelapa
•
Pembuatan batang pohon kelapa
menjadi kayu dan perabotan rumah tangga lainnya
•
Pengolahan arang tempurung kelapa
menjadi bahan karbon aktif dan obat nyamuk bakar
•
Pengolahan lidi kelapa
•
Pengolahan sabut kelapa